Minggu, 21 Desember 2014

Studi Ekskursi Ke PT. Semen Padang (Sumatera Barat)

ISMA UIN-SU Foto Bersama di depan Gerbang Utama PT. Semen Padang
Setelah berhasil dengan acara Gebyar Ekonomi Manajemen Syariah (GEMS), dengan acara puncak mendatangkan Tokoh Ekonomi Syariah Nasional, Dr. Adiwarman A. Karim, pada Bulan April 2014 lalu. Kini seperti tahun-tahun sebelumnya ISMA UIN-SU kembali melaksanakan Studi Ekskursi, acara ini menjadi budaya ISMA setiap tahunnya, dengan mengunjungi perusahan-perusahan besar di Sumatra utara.

Namun Studi Ekskursi kali ini sangat berbeda dengan tahun lalu, ISMA kembali membuat Ekspansi besar, bukan hanya Studi Ekskursi saja, tetapi juga Studi banding di Provinsi Sumatra Barat, dengan Tour ke PT. Semen Padang, Universitas Andalas, IAIN-Imam Bonjol, Serta Studi Wisata ke kota Bukit Tinggi. Dengan mengusung Tema “ISMA Goes To Padang Cement & 2 University”.

Berangkat pada Sabtu pagi 29 November 20014, dan memakan waktu 2 hari untuk sampai di Kota Bukit Tinggi, setelah menikmati Pemandangan Ngarai Sianok, Lubang Jepang, Serta Jam Gadang yang menjadi Ikon Kota yang pernah menjadi Ibukota Indonesia. Selasa Pagi ISMA melanjutjan perjalanan ke Kota Padang yang memakan sekitar tiga jam untuk sampai di lokasi PT. Semen Padang, yang berada di wilayah Indarung, Kota Padang.

Setelah sampai dilokasi seluruh peserta dan Panitia kumpul di Gedung Wisma Semen padang, untuk mendengarakan pemaparan dari Humas perusahaan serta diskusi tentang Sejarah, produk, dam lainya yang berkaitan dengan perusahaan tersebut.


Direktur ISMA 2014, menyerahkan Cendera Mata kepada PT. Semen Padang
Sekilas sejarah PT. Semen Padang, berdiri pada 18 Maret 1910 dan menjadi perusahaan semen pertama di Nusantara, yang mulai berproduksi tahun 1913, saat itu namanya masih “NV Nederlandsch Indische Portland Cement maatschapij (NV NIPCM)”. Untuk produksi Pertama semen ini berkapasitas 22.900 ton pertahun, namun saat ini perusahaan tersebut mampu memproduksi 6,5 Juta Ton/Tahun, dengan pabrik produksi sebayak empat departemen yaitu Indarung II, III, IV, V, dan ditargetkan mampu memproduksi 10,4 Ton/Tahun pada tahun 2016, dengan menambah satu departemen lagi (Indarung VI).

Untuk mendistribusikan Semen-semen tersebut, Perusahaan ini mempunyai banyak Packing Plant di wilayah Sumatra hingga ke Jawa, meliputi; Malahayati (Aceh), Belawan, Dumai, Batam, teluk Bayur, Indarung, Lampung, Tj. Periok, hingga Ciwandan. Fungsi dari Packing Plant tersebut untuk membuat serta membungkus, semen curah (cair) menjadi semen bubuk.

Selanjutnya Humas memaparkan kondisi Manajemen perusahaan. Pada tahun 1995, pemerintah melakukan konsolidasi atas 3 pabrik semen milik pemerintah yaitu PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, dan Semen Gresik, sehingga Semen padang berada di bawah semen Gresik (Semen Gresik Group). Pada 7 Januari 2013, berdirilah PT. Semen Indonesia (Persero)Tbk, sebagai pengembangan dari PT Semen Gresik Tbk sebagai strategic holding. PT. Semen Padang termasuk didalamnya sebagai Operation Company bersama dengan dengan Semen Tonasa, Semen Gresik, Serta Thang Long Cement Company (TLCC) Vietnam, yang juga telah di akuisisi oleh PT. Semen Indonesia (Persero).

Foto bersama Manajemen PT. Semen Padang
Selesai tanya jawab dari Audiens kepada pihak perusahaan, selanjutnya mereka mengajak Tim ISMA keliling melihat proses produksi yang tengah berlangsung walau hanya dari dalam bus, karena pada umumnya setiap orang yang akan memasuki wilayah proses produksi harus mengunakan Standar Keselamatan perusahaan, seperti Helm, Sepatu dan lain-lain. Walau hanya dari kejauhan tampak beberapa pabrik yang tengah beroprasi, saat ini pabrik yang di opersikan adalah Indarung II–V dan pabrik indarung yang VI yang sedang dalam proses pembangunan, sementara pabrik Indarung I telah di berhentikan dalam proses Produksinya, karena usianya yang sudah cukup lama, serta keramahan Lingkungan.


Tobe Continued. . . .

Selasa, 09 Desember 2014

ISMA Studi Wisata ke Istana Pagaruyung

ISMA UIN-SU berfoto bersama dalam rangka Studi Wisata di Istano Basa, Kerajaan Pagaruyung

Setelah beberapa hari berkeliling di kota Padang, dengan bersilatuhrahmi ke PT. Semen padang, Universitas Andalas (Unand), dan juga IAIN Imam Bonjol, ISMA UIN-SU kembali melanjutkan Studi Wisata ke Kerajaan Pagaruyung, kota Batu Sangkar, kabupaten Tanag Datar. Dengan memakan waktu perjalanan sekitar tiga jam lebih dari Kota Padang, akhirmya Rombongan ISMA UIN-SU sampai di Istano Basa Pagaruyung.

Pada saat memasuki Istana, para pengunjung diwajibkan utntuk melepas alas kaki untuk memasuki tempat tersebut, saat itu pula kami di sambut oleh pemandu wisata di tempat tersebut, dengan menerangkan isi yang ada dalam kerajaan tersebut.

Kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan melayu yang pernah berdiri meliputi Provinsi Sumatra barat, dan sekitarnya. Nama kerajaan ini dirujuk dari Tambo yang ada pada masyarakat Minangkabau, yaitu nama sebuah nagari yang bernama Pagaruyung, dan juga dapat dirujuk dari inskripsi “cap mohor Sultan Tangkal Alam Bagagar” dari Pagaruyung. Sebelumnya kerajaan ini tergabung dalam Malayapura. sebuah kerajaan yang pada Prasasti Amoghapasa disebutkan dipimpin oleh Adityawarman, yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Termasuk pula di dalam Malayapura adalah kerajaan Dharmasraya dan beberapa kerajaan atau daerah taklukan Adityawarman lainnya.[1]

Munculnya nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui dengan pasti, dari Tambo yang diterima oleh masyarakat Minangkabau tidak ada yang memberikan penanggalan dari setiap peristiwa-peristiwa yang diceritakan, bahkan jika menganggap Adityawarman sebagai pendiri dari kerajaan ini, Tambo sendiri juga tidak jelas menyebutkannya. Namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman, menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di negeri tersebut, tepatnya menjadi Tuhan Surawasa, sebagaimana penafsiran dari Prasasti Batusangkar, kerajaan ini diperkirakan Berdiri pada tahun 1347–1825 Masehi, tutur kak Nisa sebagai pemandu wisata di tempat tersebut.
Istano Basa, Kerajaan Pagaruyung, Sumatra Barat
Setelah mendengarkan kisah tentang kerajaan tersebut, Rombongan ISMA kembali melanjutkan melihat-lihat tempat tersebut, mulai dari Arca peninggalan yang asli, sampai benda-benda buatan yang menyerupai peralatan Zaman itu yang dibuat oleh pengelola tempat tersebut. Bukan hanya itu saja bahkan Istana tersebut adalah replika dari Isana baso, yang letak aslinya ada di belakang istana itu, berada di atass bukit, yang sekarang hanya tinggal bebatuan saja.

Selesai mengunjungi salah satu situs yang berada di Kabupaten Tanah Datar, Tim Rombongan Isma Kembali Mengunjungi Kota Bukit tinngi, beserta Destinasi wisata yang ada di Kota yang pernah Menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia tersebut.




[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung